Senin, 09 Maret 2009

Sekilas Cinta di Lereng Ceremai

Sjahrir mendekati putri Keraton Mangkunegaran. Membantah sempat bertunangan.

PADA suatu masa, tersebutlah Gusti Raden Ayu Siti Nurul Kamaril Ngasarati Kusumawardhani, putri Keraton Mangkunegaran, Solo. Kecantikannya termasyhur ke mana-mana, begitu pula kepandaiannya menunggang kuda.

Sutan Sjahrir, pemuja wanita itu, tak urung menaruh hati pada sang putri. Setiap kali rapat kabinet digelar di Yogyakarta, sang Perdana Menteri mengutus sekretaris pertamanya, Siti Zoebaedah Osman, ke Puri Mangkunegaran, khusus mengantar kado.


”Aku yang deketin, bawain kado dan menyampaikan salam,” kata Ida—demikian ia disapa—ketika ditemui Tempo di rumahnya di Jalan Lombok, Jakarta Pusat, dua pekan lalu.

Kado dibeli di Jakarta. Isinya macam-macam, sampai tas dan arloji. Berapa nilainya? Ida tak ingat, kecuali bahwa kado untuk Nurul selalu yang terbaik. ”Sjahrir tidak tanggung-tanggung membahagiakan hati seorang wanita,” kata sejarawan Rushdy Hoesein.

Tentu terlampir sepucuk surat tulisan tangan Sjahrir. Nurul ketika itu memang ditaksir pembesar dan raja. Mulai Bung Karno sampai Sri Sultan Hamengku Buwono IX. ”Dia alim, cakep, dan tidak angkuh,” kata Ida, kini 85 tahun.

Sebagai ”mak comblang”, Ida menceritakan watak Sjahrir kepada putri tunggal pasangan Mangkunegara VII dan Gusti Ratu Timur—putri Sultan Hamengku Buwono VII itu. ”Dia menanyakan watak si Bung,” kata Ida, yang pernah diajar membatik oleh Nurul dan menginap di Istana Mangkunegaran.

Ketika ditemui Tempo di rumahnya di Bandung, Gusti Nurul bertutur lirih, ”Saya dioleh-olehin gelang, jam, tas.” Tapi hubungan mereka lebih banyak melalui korespondensi. ”Tulisannya jelek,” kata Nurul, kini 88, seraya tersenyum kecil.

Menurut Nurul, Sjahrir tidak pernah menemuinya di Istana Mangkunegaran. ”Saya ketemu di Linggarjati,” kata Nurul, yang ketika itu diundang bersama abangnya, Mangkunegara VIII dan istri, serta ibunya. ”Kami nginep di rumah perundingan Belanda-Indonesia.”

Selanjutnya mereka bertemu di Jakarta, jika Keraton Mangkunegaran diundang rapat ke Istana Presiden. ”Ketemunya juga sebentar-sebentar.” Nurul sendiri sudah tak ingat apa yang pernah dibicarakannya dengan Sjahrir. Yang dia ingat, Sjahrir pernah membelai pipi dan dagunya.

Menurut Ida, Sjahrir pernah melamar perempuan yang pandai menari ini. Muhammad Akbar Djoehana, anak kakak perempuan Sjahrir, Nuning Djoehana, malah mengatakan Sjahrir dan Nurul sudah bertunangan. ”Menurut ibu saya, mereka pernah tukar cincin,” katanya kepada Asmayani Kusrini dari Tempo.

Nurul membantah cerita ini. ”Ndak pernah,” kata nenek 14 cucu itu. Sejarawan Rushdy Hoesein mengatakan, pacaran Sjahrir dan Nurul berjalan sekitar tiga tahun, sejak 1946.

Nurul, yang belajar menari sejak usia lima tahun, pernah tampil menari dalam pernikahan Juliana, anak Ratu Wilhelmina, di Belanda. ”Itu sumbangan kebudayaan kita,” katanya, yang mengaku deg-degan ketika menari itu karena musik gamelan pengiring diputarkan langsung dari Keraton Solo melalui radio terputus-putus.

Sedari kanak-kanak, Nurul mengaku tidak berniat menikah dengan tokoh politik. ”Risikonya banyak,” katanya. Ia ingin menikah dengan militer, dan terkabul.

Perempuan cantik ini akhirnya menikah dengan sepupunya, Soerjo Soejarso, yang pernah menjabat atase militer Republik Indonesia di Amerika Serikat. ”Tapi, sewaktu dapat suami militer, kok seragam Indonesia enggak bagus, enggak kayak seragam tentara Belanda,” katanya tersenyum.

Nurul menikah pada 24 Maret 1951. Pada tahun yang sama, Sjahrir menikah dengan Poppy, putri dr. Saleh—dokter keraton.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.