PADA akhirnya kematianlah yang memisahkan mereka. Chairil Anwar mungkin tak pernah bermimpi memiliki cucu, seseorang yang kelak mengagumi sajak-sajaknya. Mochtar Lubis, si wartawan jihad, kini punya pengikut: seorang cucunya berkarier sebagai jurnalis. Mohammad Hatta hanya bisa dikenal Athar, cucu lelakinya, dari foto dan buku-buku.
Pada akhirnya kematianlah yang memisahkan mereka. Para pendiri republik itu pergi dengan cita-cita yang mungkin tak sepenuhnya terlaksana: tentang demokrasi yang tegak berdiri, dan orang ramai hidup tanpa perut keroncong.
Di Karet, di karet (daerahku y.a.d)," kata Chairil. Pada akhirnya kematianlah yang memisahkan mereka.
Tampilkan postingan dengan label 100 TAHUN KEBANGKITAN NASIONAL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 100 TAHUN KEBANGKITAN NASIONAL. Tampilkan semua postingan
Senin, 19 Mei 2008
Surat dari Ternate
oleh: Sangkot Marzuki
Sebenarnya nama yang lebih tepat disebut adalah Alfred Russel Wallace. Ia menemukan teori ini setelah diilhami oleh keanekaragaman hayati Indonesia, yang disebutnya memiliki dua macam fauna yang sangat berbeda, sebesar perbedaan hewan Afrika dan Amerika Selatan. Bukan karena kebanggaan buta sebagai bangsa Indonesia jika nama Wallace lebih patut disebut, tapi karena demikianlah yang sesungguhnya.
Siapakah Wallace? Mengapa dia terlupakan dan justru Darwin yang mendapat semua kehormatan sebagai pencetus teori akbar tersebut? Hikmah apa yang dapat diambil dari sejarah karya ilmiah Wallace di tanah air kita?
W. J. S. Poerwadarminta Bapak Kamus Indonesia
WILFRIDUS Joseph Sabarija Poerwadarminta (12 September 1904-28 November 1968) masuk angkatan orang Indonesia pertama yang memperkenalkan bahasa Indonesia di luar negeri setelah peristiwa bersejarah Sumpah Pemuda. Ketika menjadi dosen bahasa Melayu di Sekolah Bahasa Asing di Tokyo (1932-1937), ia sering mengatakan kepada orang Jepang bahwa Indonesia sudah punya bahasa nasional sendiri. Barangkali ia mengatakannya dengan begitu saja, tidak berlandaskan sebuah kesadaran politik. Barangkali juga kecintaannya kepada bahasa Indonesialah yang mendorong dia memuliakan bahasanya itu di negeri asing. Tapi kita tahu, baru pada 1938 bahasa Indonesia boleh dipakai dalam sidang-sidang di Dewan Rakyat Hindia-Belanda, yaitu sejak Mohammad Hoesni Thamrin berpidato dengan bahasa itu di sana.
Dalam ingatan kita, Poerwadarminta adalah seorang ilmuwan, bukan politikus. Ia ilmuwan swadidik bersahaja yang berperan besar dalam sejarah perkembangan bahasa Indonesia. Minatnya kepada bahasa sudah terlihat ketika ia berusia sekitar 20 tahun. Sambil mengajar di sebuah sekolah dasar di kota kelahirannya, Yogyakarta, ia mengambil kursus pelbagai bahasa, seperti bahasa Belanda, Inggris, Prancis, Sanskerta, Jerman, Jawa Kuno, Melayu, dan Jepang, sampai ia menguasai semua bahasa itu. Tercatat ia sudah menghasilkan sedikitnya 25 buku sebagian besar berupa kamus lima diktat kuliah bahasa, serta sejumlah tulisan yang tersebar di beberapa media cetak.
Dalam ingatan kita, Poerwadarminta adalah seorang ilmuwan, bukan politikus. Ia ilmuwan swadidik bersahaja yang berperan besar dalam sejarah perkembangan bahasa Indonesia. Minatnya kepada bahasa sudah terlihat ketika ia berusia sekitar 20 tahun. Sambil mengajar di sebuah sekolah dasar di kota kelahirannya, Yogyakarta, ia mengambil kursus pelbagai bahasa, seperti bahasa Belanda, Inggris, Prancis, Sanskerta, Jerman, Jawa Kuno, Melayu, dan Jepang, sampai ia menguasai semua bahasa itu. Tercatat ia sudah menghasilkan sedikitnya 25 buku sebagian besar berupa kamus lima diktat kuliah bahasa, serta sejumlah tulisan yang tersebar di beberapa media cetak.
Tanda Bangsa Berbudaya
ALFRED Simanjuntak, 87 tahun, terus terang menyatakan kekagumannya pada tokoh satu ini. Saat pencipta lagu Bangun Pemudi Pemuda tersebut masih berusia dua tahun, si tokoh sudah menjadi anggota Volksraad alias parlemen Hindia Belanda. Pada usia 20-an Alfred pernah bertemu dengannya di sebuah gereja di Jalan Kramat, Jakarta Pusat. Berbincang dengannya pun menjadi kemewahan luar biasa. Terlebih bila melihat namanya. “Sudah Todung, Sutan, Gunung, Mulia lagi," kata Alfred.
Rasa hormat Alfred terhadap Profesor Doktor Todung Sutan Gunung Mulia (1896-1966) bukan semata melihat keturunan dan aktivitas politiknya. “Perhatiannya terhadap pendidikan dan agama sungguh luar biasa," ujarnya. “Dialah orang Batak yang paling terhormat." Tak mengherankan bila Alfred menjadi salah satu penggagas untuk mengabadikan namanya menjadi Badan Penerbit Kristen Gunung Mulia pada 1971.
Rasa hormat Alfred terhadap Profesor Doktor Todung Sutan Gunung Mulia (1896-1966) bukan semata melihat keturunan dan aktivitas politiknya. “Perhatiannya terhadap pendidikan dan agama sungguh luar biasa," ujarnya. “Dialah orang Batak yang paling terhormat." Tak mengherankan bila Alfred menjadi salah satu penggagas untuk mengabadikan namanya menjadi Badan Penerbit Kristen Gunung Mulia pada 1971.
Kisah Atlas dari Amsterdam
AJAKAN itu datang dari sahabat jauh di negeri Belanda, awal 1950. Mattheus van Randwijk, Kepala Redaksi dan Direktur Majalah Mingguan Vrij Nederland, meminta Djamaludin Adinegoro datang ke Belanda. Randwijk punya agenda penting. Bersama Cornelis de Koning, koleganya di Vrij Nederland, ia ingin memperbanyak penerbitan buku untuk Indonesia. Salah satunya membuat atlas.
Mereka mencurahkan energi pada usaha penerbitan dan penjualan buku setelah majalah yang dikelolanya goyah ditinggal pelanggan. Vrij Nederland dianggap terlalu memihak Indonesia.
Adinegoro menerima ajakan Randwijk. Ia rela meninggalkan Mimbar Indonesia, surat kabar yang ikut dirintisnya sejak 1947, karena upaya penerbitan buku itu untuk menjembatani hubungan Indonesia dan Belanda. "Kami sekeluarga sampai boyongan ke Amsterdam," kata Anita Bachtul Chatam, anak kedua Adinegoro, Selasa pekan lalu.
Mereka mencurahkan energi pada usaha penerbitan dan penjualan buku setelah majalah yang dikelolanya goyah ditinggal pelanggan. Vrij Nederland dianggap terlalu memihak Indonesia.
Adinegoro menerima ajakan Randwijk. Ia rela meninggalkan Mimbar Indonesia, surat kabar yang ikut dirintisnya sejak 1947, karena upaya penerbitan buku itu untuk menjembatani hubungan Indonesia dan Belanda. "Kami sekeluarga sampai boyongan ke Amsterdam," kata Anita Bachtul Chatam, anak kedua Adinegoro, Selasa pekan lalu.
Lawatan ke Pelosok Negeri
SEKELOMPOK wartawan melakukan lawatan ke Sumatera, Singapura, hingga Malaysia pada 1947. Mereka dipimpin seorang pegawai tinggi Departemen Penerangan Republik Indonesia, Parada Harahap. Muhammad Radjab, wartawan kantor berita Antara, kemudian menuliskan perjalanan itu ke dalam sebuah buku, Tjatatan di Sumatera.
Buku itu diterbitkan Dinas Penerbitan Balai Pustaka dan dilansir pertama kali pada 1949. Bentuknya laporan perjalanan, lengkap dengan tanggal peristiwa. Selain Radjab, ikut serta Suardi Tasrif dari harian Berita Indonesia dan Rinto Alwi dari koran Merdeka. Mereka sudah menuliskan laporan perjalanan di koran masing-masing.
Radjab dalam pengantar bukunya menyebutkan, meski tak resmi berbagi tugas, masing-masing penulis melakukan pengamatan yang berbeda. Suardi Tasrif, misalnya, mengamati soal ekonomi, sementara Rinto Alwi lebih berfokus pada masalah politik. Ia sendiri lebih memperhatikan kondisi masyarakat serta kebiasaan dan kehidupan rakyat, yang baru saja merdeka.
Buku itu diterbitkan Dinas Penerbitan Balai Pustaka dan dilansir pertama kali pada 1949. Bentuknya laporan perjalanan, lengkap dengan tanggal peristiwa. Selain Radjab, ikut serta Suardi Tasrif dari harian Berita Indonesia dan Rinto Alwi dari koran Merdeka. Mereka sudah menuliskan laporan perjalanan di koran masing-masing.
Radjab dalam pengantar bukunya menyebutkan, meski tak resmi berbagi tugas, masing-masing penulis melakukan pengamatan yang berbeda. Suardi Tasrif, misalnya, mengamati soal ekonomi, sementara Rinto Alwi lebih berfokus pada masalah politik. Ia sendiri lebih memperhatikan kondisi masyarakat serta kebiasaan dan kehidupan rakyat, yang baru saja merdeka.
Mati Ketawa Keliling Indonesia
SEBUAH tulisan Pramoedya Ananta Toer di koran Bintang Timur pada 1963 menancap di benak Gerson Poyk. Pram, pengasuh pojok kebudayaan Lentera, menganjurkan kepada mereka yang berminat menjadi penulis agar memiliki jiwa nasionalis. "Caranya, kenali Indonesia," kata Gerson, kini 77 tahun.
Maka Gerson pun berhenti mengajar di sebuah sekolah menengah pertama di Ternate, Maluku selain karena gaji guru tidak pasti. Gerson menjajal profesi baru sebagai wartawan Sinar Harapan. Menjadi jurnalis, pikirnya, punya kesempatan mengenali dan berkeliling Indonesia. Tapi hanya tujuh tahun ia bertahan. Alumnus sekolah guru agama di Surabaya ini kemudian menjadi wartawan lepas.
Mulai 1970, tulisan perjalanan Gerson muncul di banyak media. Ia lebih bebas menyambangi tempat-tempat yang belum pernah dikunjungi wartawan. Gerson melaporkan pelbagai hal: dari kisah dua gadis miskin yang menjadi pelacur di Jatiluhur, turis mabuk di Bali, petani karet di sekitar Sungai Kapuas yang terimbas embargo ekonomi Malaysia, hingga upacara adat di Merauke.
Tulisannya ringan dan jenaka, seringan hatinya ketika mengunjungi tempat-tempat itu. Ia tak pernah merencanakan kepergian dengan susah. Tiba-tiba ingin pergi ke Papua, berangkatlah ia ke sana, tak peduli kantong cekak. Gerson biasa mengembara tanpa sepeser pun uang. Ia pernah menjual jaket untuk ongkos pulang dari Bojonegoro, Jawa Timur.
Maka Gerson pun berhenti mengajar di sebuah sekolah menengah pertama di Ternate, Maluku selain karena gaji guru tidak pasti. Gerson menjajal profesi baru sebagai wartawan Sinar Harapan. Menjadi jurnalis, pikirnya, punya kesempatan mengenali dan berkeliling Indonesia. Tapi hanya tujuh tahun ia bertahan. Alumnus sekolah guru agama di Surabaya ini kemudian menjadi wartawan lepas.
Mulai 1970, tulisan perjalanan Gerson muncul di banyak media. Ia lebih bebas menyambangi tempat-tempat yang belum pernah dikunjungi wartawan. Gerson melaporkan pelbagai hal: dari kisah dua gadis miskin yang menjadi pelacur di Jatiluhur, turis mabuk di Bali, petani karet di sekitar Sungai Kapuas yang terimbas embargo ekonomi Malaysia, hingga upacara adat di Merauke.
Tulisannya ringan dan jenaka, seringan hatinya ketika mengunjungi tempat-tempat itu. Ia tak pernah merencanakan kepergian dengan susah. Tiba-tiba ingin pergi ke Papua, berangkatlah ia ke sana, tak peduli kantong cekak. Gerson biasa mengembara tanpa sepeser pun uang. Ia pernah menjual jaket untuk ongkos pulang dari Bojonegoro, Jawa Timur.
Sepotong Sejarah Jakarta
CETAKAN pertama buku setebal 116 halaman ini diluncurkan pada 1977 oleh penerbit PT Dunia Pustaka Jaya. Sejak awal, Rosihan Anwar, sang penulis, membidik pembaca dari kalangan siswa sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Tak aneh bila bahasa dan penyajiannya dibuat mudah dan tidak berbelit-belit. "Font dan gambarnya juga khas buku untuk anak," ujar wartawan senior Budiman S. Hartoyo, yang juga kolektor buku tua.Sang penulis, yang saat itu wartawan harian Asia Raya, lalu koran Merdeka, merekam kejadian penting di bulan-bulan pertama setelah Proklamasi. Termasuk beberapa kejadian yang tidak sempat dilaporkan di korannya dulu. "Sensor Jepang saat itu sangat ketat," kata Rosihan.
Tirto dan Koran Pergerakan
GEDUNG Indonesia Menggugat, Bandung, 7 Desember 2007. Artis Dewi Yull tampak terharu menerima kenang-kenangan Panitia Seabad Pers Kebangsaan. Cendera mata tersebut berupa poster buyutnya, R.M. Tirto Adhi Soerjo, yang menegaskan peran tokoh itu di kancah pergerakan nasional Indonesia.
Tirto Adhi Soerjo alias Djokomono merupakan orang pribumi pertama yang mendirikan perusahaan pers. Surat kabarnya, Medan Prijaji, dianggap sebagai surat kabar pertama Indonesia yang pendanaan, pengelolaan, percetakan, penerbitan, dan wartawannya orang Indonesia asli. "Pada masa itu, surat kabar biasanya dimiliki dan dikelola oleh orang Tionghoa, Belanda, atau Indo Belanda," kata wartawan senior Rosihan Anwar.
Cerita dari Tanah Dingin
BERAPA jauhkah jarak Marseille-Paris? Pada 1926, ketika bangsa Indonesia sedang sibuk bergerak", itu bukan pertanyaan mudah. Bacaan terbatas. Koran berbahasa Indonesia bisa dihitung dengan jari. Orang yang pernah menginjak Eropa pun tak banyak.
Tapi pembaca harian Pandji Pustaka tahu: Cuma sejauh Banjarmasin-Long Iram di Kalimantan." Ini kata Adinegoro, yang ketika itu sedang berkelana keliling Eropa. Barangkali ada orang di Long Iram atau Bandjarmasin jang tertawa membatja ini, akan tetapi demikianlah jang sebenarnja," tulisnya, dalam ejaan asli.
Djamaluddin Adinegoro Datuk Maharadjo Sutan bukanlah wartawan Pandji. Dia mahasiswa kedokteran di STOVIA yang gemar menulis. Mula-mula dia menulis untuk majalah Tjahaja Hindia, kemudian Pandji Pustaka.
Tapi pembaca harian Pandji Pustaka tahu: Cuma sejauh Banjarmasin-Long Iram di Kalimantan." Ini kata Adinegoro, yang ketika itu sedang berkelana keliling Eropa. Barangkali ada orang di Long Iram atau Bandjarmasin jang tertawa membatja ini, akan tetapi demikianlah jang sebenarnja," tulisnya, dalam ejaan asli.
Djamaluddin Adinegoro Datuk Maharadjo Sutan bukanlah wartawan Pandji. Dia mahasiswa kedokteran di STOVIA yang gemar menulis. Mula-mula dia menulis untuk majalah Tjahaja Hindia, kemudian Pandji Pustaka.
Dari Angkot hingga Asimilasi
- Apa perbedaannya antara Orde Lama dan Orde Baru sekarang?
+ Ada perubahan, ada kemajuan, tapi tidak banyak.
DIALOG imajiner ini terdapat pada alinea awal Kompasiana edisi 31 Juli 1967. Ketika itu, Orde Baru masih balita. Rubrik itu menyoal keputusan Soeharto menunjuk Roeslan Abdulgani sebagai wakil tetap Indonesia di Perserikatan Bangsa-Bangsa. Padahal banyak pihak tak setuju.
Jadi, kesimpulan kita ialah bahwa dulu kita bungkem, pemerintah jalan terus," tulis kolom itu. Sekarang kita boleh bersuara, tapi pemerintah berjalan terus juga."
Lugas dan kritis, itu ciri Kompasiana, yang pertama kali muncul di harian Kompas pada 4 April 1966. Penulisnya P.K. Ojong, pendiri Kompas selain Jakob Oetama.
+ Ada perubahan, ada kemajuan, tapi tidak banyak.
DIALOG imajiner ini terdapat pada alinea awal Kompasiana edisi 31 Juli 1967. Ketika itu, Orde Baru masih balita. Rubrik itu menyoal keputusan Soeharto menunjuk Roeslan Abdulgani sebagai wakil tetap Indonesia di Perserikatan Bangsa-Bangsa. Padahal banyak pihak tak setuju.
Jadi, kesimpulan kita ialah bahwa dulu kita bungkem, pemerintah jalan terus," tulis kolom itu. Sekarang kita boleh bersuara, tapi pemerintah berjalan terus juga."
Lugas dan kritis, itu ciri Kompasiana, yang pertama kali muncul di harian Kompas pada 4 April 1966. Penulisnya P.K. Ojong, pendiri Kompas selain Jakob Oetama.
Menghadirkan Indonesia
nilah sekelompok wartawan yang menulis tentang Indonesia yang nyata: Tirto Adhi Soerjo, Adinegoro, Rosihan Anwar, Mohammad Radjab, P.K. Ojong, dan Gerson Poyk. Di ujung pena mereka, Nusantara menjadi tanah yang hidup dengan segala pesona dan karut-marutnya--bukan sekadar gugusan pulau yang membisu.
Inilah juga pelopor pertama pembuat atlas berbahasa Indonesia, ensiklopedia berbahasa Indonesia, dan kamus umum bahasa Indonesia. Mereka adalah Adinegoro, Adam Bachtiar, Sutopo, Todung Sutan Gunung Mulia, dan Wilfridus Joseph Sabarija Poerwadarminta.
Inilah juga pelopor pertama pembuat atlas berbahasa Indonesia, ensiklopedia berbahasa Indonesia, dan kamus umum bahasa Indonesia. Mereka adalah Adinegoro, Adam Bachtiar, Sutopo, Todung Sutan Gunung Mulia, dan Wilfridus Joseph Sabarija Poerwadarminta.
Jagat Buku Islam dan Kebangkitan Nasional
oleh: Haidar Bagir
Mungkin cuma sebuah kebetulan bahwa buku tersebut terbit pada 1904, hanya empat tahun sebelum didirikannya Boedi Oetomo, yang diyakini sebagai momentum awal kebangkitan nasional Indonesia.
Kenyataannya, seabad lebih dari itu, tabiat mental manusia tetap tidak berubah-meski sains telah menjadi jauh lebih digdaya dalam semua bidang kehidupan mereka, dan meskipun ia seharusnya makin menggoyahkan keimanan manusia kepada religiusitas yang "tidak saintifik". Tidak seperti James, sosiolog sekaliber Peter Berger pun harus mengoreksi pandangannya tentang agama. Setelah melihat prospek agama akan meredup, dia pun beberapa tahun lalu menerbitkan buku suntingannya yang berjudul The Desecularisation of the World. Hampir di seluruh dunia, agama dan spiritualitas dinyatakannya menunjukkan gejala kebangkitan kembali.
(89) Wiro "Anak Rimba Indonesia"
Penerbit: Liong, Semarang (1956)
SAYA membaca Wiro kira-kira mulai kelas tiga sekolah rakyat. Pada 1957, saya membaca komik itu sampai jilid 10. Saya menangis ketika satu per satu hewan sahabat Wiro tewas ditembak Jepang.
Saya dan teman-teman sekelas menganggap Wiro sebagai Tarzan Indonesia. Tapi, dibandingkan dengan Tarzan, menurut saya, Wiro punya kelebihan. Gambarnya bagus, seperti gambar orang Indonesia. Saya dan teman-teman merasa lebih akrab.
Waktu itu komik dalam negeri bisa bersaing dengan komik luar negeri seperti Tarzan, Roy Rogers, Phantom, Rip Kirby, Superman, atau Flash Gordon. Saya lupa apakah komik luar negeri menjelang akhir 1950-an dilarang atau tidak. Seingat saya, saat itu memang mudah mendapatkan komik dalam negeri.
(90) Keulana
Penerbit: Firma Harris, Medan (1959)
TAGUAN Hardjo tak asing bagi saya. Ketika berumur delapan tahun, saya membaca karyanya. Sepulang sekolah, saya sempatkan diri menyambangi taman baca Persewaan Indah di kawasan Pakualaman, Yogyakarta. Di situlah kliping komik Taguan Hardjo dari sebuah koran tersusun. Saya lupa nama korannya. Komik utuhnya sangat sulit didapat walaupun sudah diterbitkan secara utuh.
Sungguh inspiratif tokoh dalam komik Taguan. Pendekar itu menjadi teladan bagi saya. Bukan cuma gemar mengembara, kejantanan pendekar ditunjukkan melalui nilai-nilai kejujuran yang diajarkan.
Komik Keulana baru saya baca dua tahun belakangan. Saya tertarik meriset komik itu karena memang hebat. Bagi saya, komik Taguan ajaib. Seperti relief, dan panelnya (bagian cerita) selalu selesai. Ia memiliki kemampuan seni gambar hampir sempurna. Detail dalam melukis perkampungan serta karakter orang sungguh eksotis. Ada sisi romantis alam indah permai dan laga aksinya yang sadistis.
(91) Matinya Seorang Petani
Penerbit: Majalah Indonesia (1955)
DI tangan Agam Wispi, pesan politik atau ideologi tidak tinggal sebagai slogan-slogan mentah yang kehilangan daya seperti batu apung yang melayang ringan. Pesan politik bukan saja menjadi artistik, tapi juga menjadi lontaran batu granit tajam. Wispi adalah satu dari sedikit seniman Lekra yang mampu memadukan mutu karya dengan ideologi secara pas.
Di Lekra, perdebatan internal tentang bagaimana melahirkan karya realisme sosialis tak pernah kunjung henti. Wispi termasuk pemimpinnya di "lapangan", bersama tokoh seniman lain seperti Amarzan Loebis dan Putu Oka Sukanta.
Karya yang cuma politik atau ideologi tertentu sering kali ditampik di "lingkaran dalam", secara diam-diam atau terang-terangan. Misalnya, karya penyair dadakan dari kalangan pemimpin sering dipertanyakan kelayakan pemuatannya di lembar kebudayaan. Wispi salah satu yang melakukannya dengan lantang. Wispi menganggap ada kecenderungan penggampangan dalam menerapkan ideologi dan artistik dalam sebuah karya.
Intensitas kesenimanan Wispi mirip Chairil Anwar. Chairil pembaru, dan Wispi, yang dalam hal berpakaian jauh lebih necis ketimbang Chairil, juga pembaru.
Penerbit: Liong, Semarang (1956)
SAYA membaca Wiro kira-kira mulai kelas tiga sekolah rakyat. Pada 1957, saya membaca komik itu sampai jilid 10. Saya menangis ketika satu per satu hewan sahabat Wiro tewas ditembak Jepang.
Saya dan teman-teman sekelas menganggap Wiro sebagai Tarzan Indonesia. Tapi, dibandingkan dengan Tarzan, menurut saya, Wiro punya kelebihan. Gambarnya bagus, seperti gambar orang Indonesia. Saya dan teman-teman merasa lebih akrab.
Waktu itu komik dalam negeri bisa bersaing dengan komik luar negeri seperti Tarzan, Roy Rogers, Phantom, Rip Kirby, Superman, atau Flash Gordon. Saya lupa apakah komik luar negeri menjelang akhir 1950-an dilarang atau tidak. Seingat saya, saat itu memang mudah mendapatkan komik dalam negeri.
Bambang Bujono, wartawan senior dan seniman.
(90) Keulana
Penerbit: Firma Harris, Medan (1959)
TAGUAN Hardjo tak asing bagi saya. Ketika berumur delapan tahun, saya membaca karyanya. Sepulang sekolah, saya sempatkan diri menyambangi taman baca Persewaan Indah di kawasan Pakualaman, Yogyakarta. Di situlah kliping komik Taguan Hardjo dari sebuah koran tersusun. Saya lupa nama korannya. Komik utuhnya sangat sulit didapat walaupun sudah diterbitkan secara utuh.
Sungguh inspiratif tokoh dalam komik Taguan. Pendekar itu menjadi teladan bagi saya. Bukan cuma gemar mengembara, kejantanan pendekar ditunjukkan melalui nilai-nilai kejujuran yang diajarkan.
Komik Keulana baru saya baca dua tahun belakangan. Saya tertarik meriset komik itu karena memang hebat. Bagi saya, komik Taguan ajaib. Seperti relief, dan panelnya (bagian cerita) selalu selesai. Ia memiliki kemampuan seni gambar hampir sempurna. Detail dalam melukis perkampungan serta karakter orang sungguh eksotis. Ada sisi romantis alam indah permai dan laga aksinya yang sadistis.
Seno Gumira Ajidarma, penggemar komik.
Penerbit: Majalah Indonesia (1955)
DI tangan Agam Wispi, pesan politik atau ideologi tidak tinggal sebagai slogan-slogan mentah yang kehilangan daya seperti batu apung yang melayang ringan. Pesan politik bukan saja menjadi artistik, tapi juga menjadi lontaran batu granit tajam. Wispi adalah satu dari sedikit seniman Lekra yang mampu memadukan mutu karya dengan ideologi secara pas.
Di Lekra, perdebatan internal tentang bagaimana melahirkan karya realisme sosialis tak pernah kunjung henti. Wispi termasuk pemimpinnya di "lapangan", bersama tokoh seniman lain seperti Amarzan Loebis dan Putu Oka Sukanta.
Karya yang cuma politik atau ideologi tertentu sering kali ditampik di "lingkaran dalam", secara diam-diam atau terang-terangan. Misalnya, karya penyair dadakan dari kalangan pemimpin sering dipertanyakan kelayakan pemuatannya di lembar kebudayaan. Wispi salah satu yang melakukannya dengan lantang. Wispi menganggap ada kecenderungan penggampangan dalam menerapkan ideologi dan artistik dalam sebuah karya.
Intensitas kesenimanan Wispi mirip Chairil Anwar. Chairil pembaru, dan Wispi, yang dalam hal berpakaian jauh lebih necis ketimbang Chairil, juga pembaru.
T. Iskandar Thamrin, sastrawan.
Hilang tapi Terus Berjuang
Apabila usul ditolak tanpa ditimbang suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan dituduh subversif dan mengganggu keamanan maka hanya ada satu kata: lawan!
KATA lawan!" dalam baris terakhir puisi bertajuk Peringatan yang dibuat di Solo pada 1996 itu lebih terkenal daripada penciptanya, Wiji Thukul. Tidak hanya di panggung pembacaan puisi, kata lawan!" sering diteriakkan di berbagai medan demonstrasi sampai sekarang. Kata lawan!" itu bahkan lebih ngetop dibanding judul puisi Thukul.
Kata itu seperti menjadi ikon demonstrasi melawan penguasa. Makin terasa kuat dan relevan karena sang penulis, yang bernama asli Wiji Widodo, sampai sekarang hilang tak tentu rimbanya. Dugaan kuat: Thukul sengaja dihilangkan". Lelaki kelahiran Kampung Sorogenen, Solo, 26 Agustus 1963, itu masih terus dicari keluarganya. Istri dan dua anaknya, Fitri Nganti Wani dan Fajar Merah, terus mempertanyakan nasib penyair mbeling itu.
Di mata Munir, Thukul luar biasa. Kalimat pendek itu menunjukkan pilihan hidup Wiji Thukul. Bukan pilihan yang mudah, Wiji Thukul telah membayarnya dengan mahal, dia telah menjadi korban praktek penghilangan orang," tulis Munir, Direktur Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan, dalam pengantar buku kumpulan puisi Wiji Thukul, Aku Ingin Jadi Peluru. Munir pun kemudian tewas diracun dan kasusnya belum tuntas hingga kini.
KATA lawan!" dalam baris terakhir puisi bertajuk Peringatan yang dibuat di Solo pada 1996 itu lebih terkenal daripada penciptanya, Wiji Thukul. Tidak hanya di panggung pembacaan puisi, kata lawan!" sering diteriakkan di berbagai medan demonstrasi sampai sekarang. Kata lawan!" itu bahkan lebih ngetop dibanding judul puisi Thukul.
Kata itu seperti menjadi ikon demonstrasi melawan penguasa. Makin terasa kuat dan relevan karena sang penulis, yang bernama asli Wiji Widodo, sampai sekarang hilang tak tentu rimbanya. Dugaan kuat: Thukul sengaja dihilangkan". Lelaki kelahiran Kampung Sorogenen, Solo, 26 Agustus 1963, itu masih terus dicari keluarganya. Istri dan dua anaknya, Fitri Nganti Wani dan Fajar Merah, terus mempertanyakan nasib penyair mbeling itu.
Di mata Munir, Thukul luar biasa. Kalimat pendek itu menunjukkan pilihan hidup Wiji Thukul. Bukan pilihan yang mudah, Wiji Thukul telah membayarnya dengan mahal, dia telah menjadi korban praktek penghilangan orang," tulis Munir, Direktur Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan, dalam pengantar buku kumpulan puisi Wiji Thukul, Aku Ingin Jadi Peluru. Munir pun kemudian tewas diracun dan kasusnya belum tuntas hingga kini.
Potret Pembangkangan Rendra
TUBUHNYA yang tinggi dengan rambut yang tebal dikibarkan angin itu mampu menyihir para mahasiswa. Dia berdiri di atas panggung kampus sembari tangannya memegang setumpuk kertas berisi puisi yang dibacakannya. Dan Rendra, pemilik tubuh tinggi dan sepasang mata bak elang itu, akan membuang helai demi helai yang dibacakannya itu....
Kita adalah angkatan gagap yang diperanakkan oleh angkatan takabur, Kita kurang pendidikan resmi di dalam hal keadilan, karena tidak diajarkan berpolitik, dan tidak diajar dasar ilmu hukum
Suara yang nyaring, menekan, dan menyihir itulah yang selalu diingat Hendardi, kini 50 tahun. Sajak Anak Muda yang dibawakan Willibrordus Surendra Broto Rendra atau W.S. Rendra, bagi Hendardi, telah menjadi sumber inspirasi melawan rezim Orde Baru. "Waktu itu saya baru masuk menjadi mahasiswa. Kakak angkatan kami ditangkapi dan ditahan, militer masuk kampus," katanya.
Kita adalah angkatan gagap yang diperanakkan oleh angkatan takabur, Kita kurang pendidikan resmi di dalam hal keadilan, karena tidak diajarkan berpolitik, dan tidak diajar dasar ilmu hukum
Suara yang nyaring, menekan, dan menyihir itulah yang selalu diingat Hendardi, kini 50 tahun. Sajak Anak Muda yang dibawakan Willibrordus Surendra Broto Rendra atau W.S. Rendra, bagi Hendardi, telah menjadi sumber inspirasi melawan rezim Orde Baru. "Waktu itu saya baru masuk menjadi mahasiswa. Kakak angkatan kami ditangkapi dan ditahan, militer masuk kampus," katanya.
Denyut Demonstran dalam Puisi
Anakmu yang berani Telah tersungkur ke bumi Ketika melawan tirani
-Salemba, Taufiq Ismail, 1966
SEBAIT sajak dalam kumpulan puisi Tirani dan Benteng itu menyeruak di tengah pergolakan politik 1966. Penyair Taufiq Ismail menulis puisi itu tatkala suhu politik negeri ini memanas. Gelombang demonstrasi pelajar dan mahasiswa menuntut pembubaran Partai Komunis Indonesia, Kabinet Dwikora, dan penurunan harga-dikenal dengan Tiga Tuntutan Rakyat-sedang marak-maraknya.
Ketika itu Jakarta membara oleh lautan demonstran. Di jalanan Ibu Kota, di tengah ingar-bingar pengunjuk rasa, puisi-puisi Taufiq hadir dalam bentuk stensilan bersama ratusan pamflet dan spanduk, yang meneriakkan protes terhadap pemerintahan Demokrasi Terpimpin di bawah Presiden Soekarno.
Puisi-puisi yang sarat dengan tema sosial itu berisi kecemasan, kesangsian, kebebasan, harapan, cita-cita, dan tekad. Taufiq baru saja dua tahun lulus dari Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan Universitas Indonesia, dan langsung berada di tengah hiruk-pikuk demonstrasi. Ia mengabadikan momen bersejarah itu melalui puisi-puisi yang ditulis sepanjang Februari-Maret 1966.
-Salemba, Taufiq Ismail, 1966
SEBAIT sajak dalam kumpulan puisi Tirani dan Benteng itu menyeruak di tengah pergolakan politik 1966. Penyair Taufiq Ismail menulis puisi itu tatkala suhu politik negeri ini memanas. Gelombang demonstrasi pelajar dan mahasiswa menuntut pembubaran Partai Komunis Indonesia, Kabinet Dwikora, dan penurunan harga-dikenal dengan Tiga Tuntutan Rakyat-sedang marak-maraknya.
Ketika itu Jakarta membara oleh lautan demonstran. Di jalanan Ibu Kota, di tengah ingar-bingar pengunjuk rasa, puisi-puisi Taufiq hadir dalam bentuk stensilan bersama ratusan pamflet dan spanduk, yang meneriakkan protes terhadap pemerintahan Demokrasi Terpimpin di bawah Presiden Soekarno.
Puisi-puisi yang sarat dengan tema sosial itu berisi kecemasan, kesangsian, kebebasan, harapan, cita-cita, dan tekad. Taufiq baru saja dua tahun lulus dari Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan Universitas Indonesia, dan langsung berada di tengah hiruk-pikuk demonstrasi. Ia mengabadikan momen bersejarah itu melalui puisi-puisi yang ditulis sepanjang Februari-Maret 1966.
Chairil Anwar dan Semangat Kebangsaan
oleh: Arif Bagus Prasetyo
SEMANGAT kebangsaan, atau nasionalisme dan patriotisme, memang seakan melekat pada citra Chairil Anwar (1922-1949). Chairil aktif berpuisi pada zaman revolusi, sebuah kurun mahagenting dalam sejarah bangsa Indonesia dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Puisi-puisi awalnya ditulis pada masa pendudukan Jepang dan karya-karya terakhirnya diguratkan pada pengujung dasawarsa 1940-an.
Kepenyairan Chairil bersinar ketika Indonesia masih "bangsa muda menjadi, baru bisa bilang 'aku'" (Buat Gadis Rasid) sehingga masih harus berjuang keras mempertahankan diri dari berbagai kekuatan eksternal dan internal yang ingin menghapus eksistensinya. Chairil semasa hidupnya konon bergaul dengan para tokoh elite pejuang-pendiri negara-bangsa Indonesia, seperti Bung Karno dan Bung Sjahrir.
Kritikus H.B. Jassin (almarhum) menobatkan Chairil sebagai "Pelopor Angkatan 45", sebuah periodisasi sastra(wan) Indonesia yang dinamai dengan angka keramat tahun kemerdekaan Republik Indonesia. Dan yang terpenting, sejumlah puisi Chairil memang jelas-jelas mengumandangkan spirit perjuangan dan kejuangan bangsa.
Itulah kiranya sebagian faktor yang membuat Chairil cenderung dinilai sebagai sosok penyair yang, lebih daripada penyair Indonesia lainnya di sepanjang sejarah, paling representatif membawa pijar semangat kebangsaan. Banyak sudah pakar sastra Indonesia yang menyepakati bahwa nasionalisme/patriotrisme adalah bagian penting dari riwayat Chairil sang Penyair.
Puisi: Roh Sebuah Gerakan
Puisi-puisi itu mengembuskan keberanian. Pada 1966, tatkala mahasiswa tertembak mati, sajak-sajak Tirani dan Benteng karya Taufiq Ismail adalah sebuah energi. Ketika pada 1978 kampus-kampus bergolak, sajak-sajak pamflet Rendra turut membakar, memberikan nyali kepada mahasiswa. "Aku tulis pamplet ini, karena lembaga pendapat umum ditutupi jaring labah-labah...." Adapun puisi Wiji Thukul paling populer dibacakan dalam rangkaian demonstrasi pada 1990-an: "Hanya satu kata: Lawan".
Inilah buku-buku puisi yang ikut berperan dalam mengkritik rezim. Kumpulan puisi yang mengikuti jejak, sajak-sajak si binatang jalang Chairil Anwar, yang kami anggap dari tahun 1945-an sampai kini pun mampu memberikan rasa perlawanan.
Selain itu, kami juga menyajikan komik yang dalam pandangan kami mampu membuat imajinasi anak-anak pada zamannya melayang pada sikap antikolonial.
Inilah buku-buku puisi yang ikut berperan dalam mengkritik rezim. Kumpulan puisi yang mengikuti jejak, sajak-sajak si binatang jalang Chairil Anwar, yang kami anggap dari tahun 1945-an sampai kini pun mampu memberikan rasa perlawanan.
Selain itu, kami juga menyajikan komik yang dalam pandangan kami mampu membuat imajinasi anak-anak pada zamannya melayang pada sikap antikolonial.
Dari Perbendaharaan Lama
oleh: Taufik Abdullah
"Ya, Amirul Mukminin, ketahuilah olehmu yang mata air itu engkau juga dan segala menteri dan hulubalang dan lain daripada itu seperti segala sungai juga umpamanya. Jikalau mata air itu suci dan segala sungai itu keruh tiada mengapa. Tetapi jika mata air itu keruh dan segala sungai itu suci tiada berguna."
Maka sangatlah terharu Sultan mendengar perkataan ini karena Baginda merasakan juga akan kebenarannya. Syekh pun berkata lagi bahwa adapun "mata air" itu pangkal segala-galanya, karena ia adalah Sultan Khalifatur rahman dan Sultan Zilu'l-lahi fi-l alam. Sebab, jika tidaklah demikian halnya, "Raja itulah bayang-bayang iblis dan khalifah seteru Allah Ta'ala jua adanya." Tapi, walaupun raja itu "adil" dan kekuasaannya pun besar pula, "sungai-sungai" harus sadar bahwa raja tidak lebih daripada "hamba Allah", yang telah dikurniai Allah "kerajaan" dan "kebesaran". Karena itulah mereka harus menjaga kesucian atas kepercayaan yang telah diberikan Allah itu.
Langganan:
Postingan (Atom)








