Tampilkan postingan dengan label Sutan Sjahrir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sutan Sjahrir. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Maret 2009

Sutan Sjahrir: Sebuah Kekecualian Zaman

Oleh: MUHAMMAD CHATIB BASRI

SUTAN Sjahrir seperti sebuah kekecualian bagi zamannya. Mungkin ia terlalu di depan bagi masanya. Ketika nasionalisme adalah tungku yang memanggang anak-anak muda dalam elan kemerdekaan, Sjahrir justru datang dengan sesuatu yang mendinginkan. Bagi Sjahrir, kemerdekaan nasional tidak final. Tujuan akhir dari perjuangan politiknya adalah terbukanya ruang bagi rakyat untuk merealisasi dirinya, untuk memunculkan bakatnya dalam kebebasan. Tanpa halangan. Bagi Sjahrir, kemerdekaan adalah sebuah jalan menuju cita-cita itu. Itu sebabnya Sjahrir menganggap nasionalisme harus tunduk kepada kepentingan demokrasi.

Saya sulit membayangkan, di satu masa ketika nasionalisme begitu berapi-api, ketika kemerdekaan seperti menjadi obsesi dan tujuan akhir bangsa, Sjahrir justru berbicara tentang sesuatu yang lebih jauh dari itu. Di masa ketika nasionalisme seperti menjadi pegangan garis perjuangan, Sjahrir mengingatkan: tanpa demokrasi, nasionalisme bisa bersekutu dengan feodalisme.

Mencari Ahli Waris Ideologis Sjahrir

Oleh: VEDI R. HADIZ

DALAM sejarah Indonesia, Sutan Sjahrir adalah eksponen utama garis ideologis yang dapat disebut perpaduan antara tradisi sosial demokrasi dan liberalisme. Sebagai sosial demokrat, ia merupakan tokoh gerakan buruh yang andal pada 1930-an, dan menaruh perhatian amat besar terhadap masalah pendidikan rakyat. Liberalismenya terlihat antara lain dalam perhatiannya yang besar pula terhadap masalah perlindungan hak-hak individu dari tirani negara. Tak mengherankan bila ia menjadi musuh besar fasisme, baik yang berasal dari luar maupun dalam negeri.

Tidaklah mengejutkan bahwa ideologi yang diperjuangkan Sutan Sjahrir mengalami rintangan pada masa Demokrasi Terpimpin maupun Orde Baru yang otoriter. Tetapi, Indonesia sekarang adalah negara demokrasi, bahkan negara demokrasi yang paling tegak di seluruh Asia Tenggara mengingat beberapa perkembangan anti-demokratis di Filipina, dan terutama Thailand, belakangan ini. Sebagai negara demokrasi, barangkali kita berharap menemukan para ahli waris garis ideologi yang diperjuangkan oleh Sutan Sjahrir di antara berbagai kekuatan politik yang sekarang bersaing secara bebas dan terbuka untuk memimpin Indonesia.

Sutan Sjahrir: Titian Sosialisme ke Demokrasi

Oleh: IGNAS KLEDEN

PEMIKIRAN politik kiri, yaitu filsafat politik yang menekankan persamaan dan keadilan, merupakan semangat zaman sekaligus intellectual fashion tempat hampir semua pendiri Republik Indonesia bertumbuh dan menjadi matang. Soekarno terpukau pada teori imperialisme Lenin, Hatta mempelajari ekonomi sosialis negara-negara Skandinavia dan memperjuangkan koperasi sebagai perwujudan ekonomi kerakyatan, Tan Malaka mencoba menerjemahkan sosialisme ilmiah ke dalam teori Madilog sebagai epistemologi materialis untuk mengikis alam pikiran mistis dan takhayul, sedangkan Sjahrir memperkenalkan dan mendirikan partai politik dengan asas sosial-demokrasi.

Dalam sejarah sosialisme di Barat—sebagaimana dijelaskan Sjahrir —konsep sosial-demokrasi muncul pertama kali di kalangan kaum sosialis Jerman di bawah pimpinan Eduard Bernstein, setelah berdirinya Gerakan Buruh Internasional II (dikenal sebagai Internasional II) di Paris pada Juli 1889. Internasional II lahir dua dasawarsa setelah Internasional I yang didirikan pada 1864 dengan mengikuti gagasan Marx, hancur berantakan oleh revolusi 1871 yang menelan korban lebih dari 20 ribu jiwa.

Sjahrir dalam Renungan Dua Jilid

Oleh: DANIEL DHAKIDAE

MENGENANG Sutan Sjahrir menempatkan siapa pun jauh-jauh dari suasana selebrasi bagi salah seorang tokoh utama revolusi Indonesia. Mengenang Hatta adalah perayaan, untuk tidak mengulang super-selebrasi dalam hal Soekarno. Mengenang Sjahrir adalah merenungi keterasingan dan pengasingan sebegitu rupa sehingga terpaksa dilakukan sesuatu yang, pada dasarnya, memalukan untuk ”memperkenalkan kembali” siapa Sutan Sjahrir.

Sjahrir, Ilmu, dan Pembudakan Ilmuwan

Sjahrir adalah a man of paradox dalam berbagai arti. Tubuhnya kecil dengan tinggi tidak mencapai satu setengah meter, 145 sentimeter, dan berat badan hanya 45,5 kilogram. Namun di sana tersimpan energi dahsyat. Inteligensinya mengagumkan.

Kerja Sama Singkat Tan Malaka dan Sjahrir

Oleh: HARRY POEZE

SJAHRIR adalah satu dari Tujuh Begawan Revolusi Indonesia. Ketujuh orang ini—Soekarno, Hatta, Sjahrir, Amir Sjarifoeddin, Tan Malaka, Sudirman, dan A.H. Nasution—dalam kadar berbeda menentukan arah dan produk revolusi. Republik Indonesia pada zaman revolusi, dengan demikian, bukan merupakan akibat dari proses sosial yang impersonal dan tak terhentikan, melainkan hasil interaksi ribuan orang dan organisasi, kelompok angkatan bersenjata dan badan perjuangan, politikus nasional dan lokal, idealisme dan oportunisme, patriotisme dan banditisme, pahlawan dan pengecut. Semua ingar-bingar itu berakhir dengan ajaib: pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda pada Desember 1949.

Ketujuh pemimpin ini dengan caranya masing-masing berkontribusi bagi jalannya revolusi. Setelah revolusi, mereka mengalami peruntungan berbeda, aliansi berbeda, dan perimbangan kekuatan berbeda.

Sjahrir dan Amir, yang tak tergoda bekerja sama dengan Jepang, pada 1945 segera mengambil alih kekuasaan dari tangan Soekarno dan Hatta. Mereka menghadirkan Republik Indonesia yang siap bernegosiasi dengan Sekutu dan Belanda. Di latar belakang, Soekarno dan Hatta menunggu saat yang tepat untuk comeback. Kesempatan itu datang tatkala Sjahrir berada di bawah tekanan melakukan terlalu banyak konsesi dalam pembicaraannya—yang dalam diskursus politik sering disederhanakan sebagai diplomasi.


Sjahrir di Pantai

Oleh: GOENAWAN MOHAMAD

SAYA bayangkan Sjahrir di Banda Neira pagi itu, 1 Februari 1942. Kemarin tentara Jepang menyerbu Ambon. Beberapa jam sesudah itu bom meledak.

Saya bayangkan pagi itu, setelah sebuah pesawat MLD-Catalina berputar-putar di sekitar pulau. Berisiknya membangunkan penduduk, sebelum ia berhenti di pantai yang tenang. Ko-pilot pesawat, seorang opsir Belanda, turun dan menuju ke tempat Sjahrir dan Hatta tinggal. Kedua tahanan politik itu harus meninggalkan pulau cepat-cepat, pesannya. Hanya ada sekitar waktu satu jam untuk bersiap.

Sjahrir Adalah...

ROSIHAN ANWAR
Periang dan Nggak ’Cetek’

Bagi Rosihan Anwar, 87 tahun, Sutan Sjahrir bukan orang kaku. ”Tiap saya ketemu dia, kami suka bercanda. Tapi tidak berarti dia cetek (ilmunya),” kata wartawan senior ini. Buktinya, Sjahrir sudah mengetahui lebih dulu akan ada perang dingin antara Blok Barat dan Timur pada pertengahan 1940-an, mendahului pengetahuan pemimpin Indonesia lainnya. ”Tapi dia juga sosok yang ditakuti (pemerintah kolonial Belanda),” kata pendiri Persatuan Wartawan Indonesia itu.

Menurut penerima gelar Doctor Honoris Causa dari Institut Agama Islam Negeri Syarif Hidayatullah ini, mestinya generasi muda sekarang membaca, mempelajari, dan menerapkan ide-ide brilian Sjahrir. Yakni, gagasan yang melahirkan demokrasi, ekonomi kerakyatan, kemanusiaan, keadilan, dan kesejahteraan.

Foto Tua di Garasi Mursia

Sempat tinggal di rumahnya, Mursia bertekad meneruskan semangat Sjahrir: membangun koperasi.

ORANG memanggilnya Eyang Zaafril. Kini 84 tahun, Mursia Zaafril Ilyas memang orang lama. Halaman rumahnya di Jalan Tenes, Bareng, Malang, Jawa Timur, kerap menjadi tempat parkir gerobak pedagang keliling.

Lebih dari 60 tahun lalu, Mursia tinggal di rumah Sjahrir. Ia masih ingat detail kenangannya bersama pendiri Partai Sosialis Indonesia itu. Ia bertemu pertama kali dengan Bung Kecil pada 1942 di Surabaya, ketika menghadiri diskusi pemuda. Wiyono, gurunya di Taman Siswa Yogyakarta, yang mengenalkan mereka.

Pintu Tertutup untuk PSI

Ketika Soeharto berkuasa, tumbuh harapan kaum pluralis modern untuk membangkitkan PSI. Peristiwa Malari membuyarkan impian itu.


IBU Kota membara pada 15 Januari 1974. Sebanyak 11 orang tewas, 300 luka-luka, 775 ditahan. Ratusan gedung dan kendaraan dibakar—kerusuhan terburuk sejak Presiden Soekarno jatuh.

Pemerintah Orde Baru, melalui Opsus—Operasi Khusus, badan yang dipimpin Ali Moertopo—menuding eksponen Partai Sosialis Indonesia ada di balik aksi itu. Teori yang dimunculkan adalah ”konspirasi PSI”.

Setelah Sibi Tiada

Poppy Sjahrir membesarkan dua anaknya dalam kesederhanaan. Sempat larut dalam kesedihan.

BANDAR Udara Kemayoran, Jakarta Pusat, 17 April 1966. Jenazah bekas perdana menteri Sjahrir, yang baru datang dari Zurich, Swiss, disambut masyarakat dengan gempita. ”Pake diupacarain. Kami harus sering berdiri memberi hormat,” kata Siti Rabyah Parvati, kini 48 tahun, putri bungsu Sjahrir, mengenang. Keesokan harinya, Sjahrir dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Bekas Pemimpin Redaksi Harian Pedoman Rosihan Anwar mencatat setidaknya 250 ribu orang mengikuti prosesi pemakaman itu.


Penghormatan itu bertolak belakang dengan suasana ketika Sjahrir berangkat ke Zurich—dalam status tahanan politik—setahun sebelumnya. Tak ada hiruk-pikuk, tak ada pesta perpisahan, kecuali lambaian tangan beberapa kerabat.

Wajah Sjahrir dalam Kotak

IA memejamkan matanya. Rautnya seperti menahan kesakitan. Gips cetakan wajah Sjahrir itu seperti sebuah kepala. Kita seperti melihat kepala Sjahrir diawetkan. Sjahrir tertidur. Ia tampak lelah sekali.

Gips wajah Sjahrir itu disimpan dalam sebuah kotak kayu tebal cokelat dengan dua gembok kecil. Kayu persegi panjang itu dibuat seperti kotak plakat yang biasa dipakai sebagai kotak hadiah yang berisi kenang-kenangan untuk tamu. Bila penutup kotak plakat dibuka, biasanya isinya adalah hiasan atau cendera mata. Tapi kotak ini bila dibuka akan muncul wajah Sjahrir dengan ekspresi seperti tengah menghadapi sakratulmaut.

Gips cetakan paras Sjahrir yang betul-betul mirip kepala manusia itu tampak berat. Warna gips itu tadinya putih, tapi kini berubah kecokelatan. Namun, lantaran perubahan warna itulah, warna kepala makin menyerupai warna kulit wajah sesungguhnya. Bila kita amati seluruh wajah itu, sama sekali tidak ada retakan, menandakan gips itu demikian kuat.


Zurich, Detik-detik Terakhir

Sutan Sjahrir meninggal di Zurich. Inilah kenangan Buyung dan Upik, anak-anak Sjahrir, tentang hari-hari terakhir kehidupan ayahnya.

"NICHT zu kurz”, catatan di atas secarik kertas itu dibawa Kriya Arsjah Sjahrir. Dalam perjalanan menuju tukang cukur, Buyung—begitu panggilan bocah berusia sembilan tahun itu—mencoba menghafalnya. Dan saat di tempat cukur, ia dapat berkata lantang kepada tukang cukur, ”Nicht zu kurz,” yang artinya: jangan terlalu pendek. Bocah kelas 2 SD itu senang sekali.

Begitulah Buyung belajar bahasa Jerman sedikit demi sedikit dari sang ibu, Poppy Sjahrir. Saban sore, ia memberi kursus singkat kepada si sulung. Waktu itu, paruh kedua 1965, Poppy mendaftarkan Buyung ke sekolah umum di Zurich, kota terbesar di Swiss. Negara ini memiliki empat bahasa resmi: Jerman, Prancis, Italia, dan Romansh yang kurang populer.

Sekilas Cinta di Lereng Ceremai

Sjahrir mendekati putri Keraton Mangkunegaran. Membantah sempat bertunangan.

PADA suatu masa, tersebutlah Gusti Raden Ayu Siti Nurul Kamaril Ngasarati Kusumawardhani, putri Keraton Mangkunegaran, Solo. Kecantikannya termasyhur ke mana-mana, begitu pula kepandaiannya menunggang kuda.

Sutan Sjahrir, pemuja wanita itu, tak urung menaruh hati pada sang putri. Setiap kali rapat kabinet digelar di Yogyakarta, sang Perdana Menteri mengutus sekretaris pertamanya, Siti Zoebaedah Osman, ke Puri Mangkunegaran, khusus mengantar kado.


Sang Pemuja dan Tuan Perdana Menteri

Poppy adalah istri dan pengagum terbesar Sjahrir. Ia tersenyum, dalam suka dan derita.

SEKRETARIS baru itu menarik perhatian ”Tuan” Perdana Menteri. Bila melintas, sang bos suka menggoda. Alih-alih marah, Poppy Saleh, sekretaris yang digoda itu, hanya bersemburat merah pipinya. Dari ruang kantor perdana menteri, pergaulan sekretaris dan bos itu berlanjut menjadi kisah romantis. Sjahrir tak bertepuk sebelah tangan.

Rupanya bukan sebuah kebetulan. Poppy telah lama mengagumi bosnya. Itu sebabnya, ”Sjahrir mudah mendekati Poppy, padahal ia perempuan yang enggak kenal lelaki,” kenang Siti Zoebaedah Osman, sekretaris pribadi Sjahrir, saat ditemui Tempo dua pekan lalu.

Ketika menjadi perdana menteri pada 14 November 1945, Sjahrir memutuskan mengangkat dua sekretaris. Yang menangani urusan pribadi berkantor di rumahnya di Jalan Jawa (sekarang Jalan H.O.S. Cokroaminoto) di bilangan Menteng, Jakarta Pusat. Tugas ini dipegang Ida—lengkapnya Zoebaedah—yang telah lama membantu Sjahrir.

Kees Snoek: Maria Ingin Membakar Surat-surat itu

SEBUAH "kebetulan" mengantar Kees Snoek mendapatkan "harta karun" berupa surat-surat Sjahrir kepada Maria Duchteau -istri pertamanya yang orang Belanda. Snoek sedang menulis biografi tentang penyair Belanda Charles Edgar Du Perron. Tak dinyana, sang penyair merupakan sahabat Sjahrir dan Maria.

Sjahrir menulis di atas kertas biru tipis. Surat yang dilayangkan pada 1931-1940 itu berjumlah 287 buah dengan panjang bervariasi antara 4 dan 7 halaman. "Tulisan tangan Sjahrir kecil-kecil dan sukar dibaca," ujar Snoek. "Sepertinya dia menulis secara terburu-buru". November mendatang ia akan menerbitkan surat-surat bersejarah itu.

Berikut ini wawancara koresponden Tempo di Belanda, Asmayani Kusrini, dengan Snoek.

Anda mengetahui hubungan Sjahrir-Maria Duchteau saat melakukan riset tentang Du Perron?

Untuk menulis biografi Du Perron yang bersahabat pena dengan Sjahrir, saya menghubungi Maria Duchteau pada 1993. Saya dan Maria saling bertulis surat karena saya masih tinggal di Selandia Baru, Januari 1994, ketika kembali ke Eropa, saya bertemu dengan Maria.

Kasih yang Tak Sampai

Sjahrir punya hubungan khusus dengan beberapa perempuan. Ia seorang flamboyan yang suka dansa dan gemar musik klasik. Pria yang amat mencintai anak-anaknya itu meninggal dalam kesunyian pengasingan-di sebuah flat sempit di Zurich, Swiss.


AMSTERDAM adalah kota yang menggairahkan Sjahrir. Dia menemukan idealisme di kota ini. Juga teman-teman sealiran. Salomon Tas, wartawan berhaluan kiri, yang saat itu menjabat Ketua Sociaal Democratische Studenten Club (Perkumpulan Mahasiswa Sosialis Demokrat) Amsterdam, adalah salah satu sahabat dekat Sjahrir. Berdarah Yahudi, Tas lahir dalam keluarga sederhana, terdidik, serta amat antikolonial. Mahasiswa Hindia Belanda yang sedang bersekolah di negeri itu, termasuk Sjahrir, segera menjadi kawan-kawan dekatnya.

Surat Pengagum Faust

"Aku relatif kurang populer di kalangan orang-orang nasionalis dan intelektual di Indonesia. Ini untuk sebagian besar disebabkan karena aku mempunyai apa yang disebut mereka itu "kecenderungan-kecenderungan Barat" dan beberapa orang malahan mengatakan aku "kebelanda-belandaan" (Banda Neira, 9 Maret 1936).

HAMPIR sebulan dibuang di Banda Neira, Sjahrir menuliskan kalimat itu. Dengan tutur kata yang tenang, tak meledak-ledak, Sjahrir selanjutnya memasuki perenungan mengapa makin lama di Indonesia tumbuh perasaan anti-Barat yang kuat. Sebuah sikap yang menurut dia merupakan bagian dari kompleks kurang harga diri sebuah bangsa.

Surat-surat terkenal Sjahrir dari pengasingan di Boven Digul dan Banda Neira, yang dalam edisi Indonesia diterbitkan dalam judul: Renungan dan Perjuangan, banyak membahas tema itu. Sjahrir pertama kali menjadi tahanan di penjara Cipinang, Jakarta. Ia masuk bui pada sekitar Februari 1934. Surat-suratnya dimulai dari bulan Maret. "Aku sama sekali tidak merasa diri seorang martir," demikian ia menulis. Berdiam di penjara, menurut dia, membuat dia berkepala dingin menghadapi segala sesuatu. Ia tak ingin hanyut dalam pemikiran romantis.

Manifesto Seorang Antifasis

BEBERAPA hari setelah menjadi perdana menteri, akhir November 1945, Sutan Sjahrir menghadiri rapat akbar di alun-alun Kota Cirebon, Jawa Barat. Ia berpidato dengan suara tenang. Seorang hadirin bertanya, "Mengapa dalam buku Perdjoeangan Kita tak satu pun disebut nama Tuhan?"

Sjahrir tertawa. Ia menjawabnya dengan sebuah cerita. Ketika kecil dan bersekolah di Medan, katanya, ia membaca buku-buku matematika yang ditulis seorang pastor. Meski yang menulis pastor, tak sekali pun ada nama Tuhan di sana. "Perdjoeangan Kita adalah buku politik yang penuh perhitungan. Buku itu tak ditulis berdasarkan emosi," kata perdana menteri 36 tahun itu.

Kisah ini diceritakan Hamid Algadri, bekas Menteri Penerangan yang menemani Sjahrir berpidato, dalam memoarnya. Dengan jawaban itu, kata Hamid, terlihat benar Sjahrir orang yang rasional.

Tak Ada Patung Bung Kecil


BERDIRI di antara dua pria Belanda, lelaki itu terlihat mungil. Tapi ia tampak sangat percaya diri. Peristiwa 17 November 1945 itu terekam kamera juru potret harian Merdeka, Alex Mendur.

Sutan Sjahrir, pria kecil itu, baru selesai menghadiri pertemuan dengan Gubernur Jenderal Belanda Van Mook dan Panglima Sekutu di Indonesia, Jenderal Sir Philip Christison, di Jakarta. Gara-gara foto itulah koran-koran lantas memberinya julukan "Bung Kecil".

Jalan Bersimpang Setelah Proklamasi


SEBENARNYA begitu banyak kemiripan Sutan Sjahrir dan Tan Malaka. Keduanya berdarah Minang, mengecap pendidikan Belanda, dan menolak kerja sama dengan Jepang.


Ketika proklamasi dibacakan, Sjahrir dan Tan tak unjuk diri. Sjahrir memilih berada di tepi, hanya mengamati. Tan sedang di Banten dan baru mengetahui proklamasi setelah mengunjungi rumah Achmad Soebardjo, yang sudah dikenalnya sejak 1920-an. Tapi keduanya kemudian mendapat surat wasiat dari Soekarno. Presiden Soekarno menunjuk empat orang sebagai penggantinya bila dia ditangkap Belanda atau mati: Tan Malaka, Sjahrir, Iwa Kusumasumantri, dan Wongsonegoro.