Senin, 01 Oktober 2007

D.N. Aidit dan Sastra: Sajak Pamflet Sang Ketua

TELEPON kantor Harian Rakjat di Jalan Pintu Besar Selatan Nomor 93, Jakarta Pusat, meraung-raung pada suatu Sabtu malam, sekitar awal 1965. Dipa Nusantara Aidit, Ketua Comite Central Partai Komunis Indonesia, mencari "orang yang bertanggung jawab" atas seleksi puisi di HR Minggu, lembar kebudayaan yang berbeda isi, bahkan logonya, dengan Harian Rakjat edisi reguler. Telepon itu disambut Amarzan, redaktur yang memang ditugasi menyeleksi kiriman puisi.

"Apakah sajak-sajak saya sudah diterima?" terdengar Aidit di seberang telepon.

"Sudah."

"Jadi, dimuat dalam edisi besok?"

Setelah berpikir sejenak, Amarzan menjawab, "Tidak."

"Maksudnya?"

"Ya, tidak dimuat"

"Mengapa tidak dimuat?"

"Menurut saya, belum layak dimuat."

Hening. Lalu brak! Telepon dibanting.

Amarzan, ketika itu 24 tahun, baru dua tahun menjadi redaktur. Ia paham, menolak puisi Aidit bisa menjadi perkara besar. Sejam kemudian, telepon kantor kembali berdering, masih mencari Amarzan. Kali ini dari Njoto, Wakil Ketua II CC PKI sekaligus Pemimpin Redaksi Harian Rakjat. Dengan nada kalem, Njoto bertanya apakah benar Amarzan menolak memuat sajak-sajak kiriman Aidit. Amarzan membenarkan.

"Bung yakin akan pendapat Bung?" Njoto bertanya.

"Yakin."

"Tak ada hal-hal lain yang bisa dipertimbangkan?"

"Tidak."

"Baik. Kalau begitu, saya mendukung keputusan Bung."

Plong. Tadinya ia menyangka Njoto bakal memaksanya memuat sajak-sajak Aidit itu. "Jika itu terjadi, saya akan keluar," katanya mengenang "insiden telepon" itu, tiga pekan lalu. Ketika itu, gajinya Rp 525 per bulan, cukup untuk makan dua pekan di masa beras sulit dan apa-apa harus mengantre.

Menurut Amarzan, kini 66 tahun, ia menolak puisi Aidit justru karena ingin menyelamatkan "martabat" sang Ketua. "Puisinya sejenis puisi poster," katanya. Sayang, Amarzan lupa puisi Aidit mana yang ia tolak ketika itu.

Aidit lumayan banyak menulis puisi, dari 1946 sampai 1965. Sajak-sajaknya hampir seluruhnya berisi puji-pujian kepada partai, atau anjuran revolusi, bahkan dalam sajak yang sangat personal sekalipun. Selain di Harian Rakjat itu, sajak Aidit kerap muncul di Suara Ibukota, sebuah koran politik Jakarta yang diasuh seorang aktivis PKI, Hasan Raid.

Aidit menggunakan puisi sebagai media untuk berkomentar atas peristiwa aktual yang ia lihat dan dengar, dengan gaya menyeru dan berpe_tuah. Sajak-sajak di kedua koran itu kemudian dikumpulkan dan diterbitkan dalam antologi Lumpur dan Kidung.

Baca, misalnya, sajaknya Raja Naik Mahkota Kecil, yang ditulis pada 23 Juni 1962 untuk menyindir pengangkatan Letnan Jenderal Ahmad Yani sebagai Kepala Staf Angkatan Darat, menggantikan Jenderal Abdul Harris Nasution.

Udara hari ini cerah benar pemuda nyanyi nasakom bersatu gelak ketawa gadis remaja mendengar si lalim naik takhta tapi konon mahkotanya kecil

Sajak empat kuplet ini ditutup dengan stanza: Ayo, maju terus kawan-kawan/ Halau dia ke jaring dan jerat/ tangkap dia dan ikat erat/ hadapkan dia ke mahkamah rakyat!

Atau baca: Yang Mati Hidup Kembali, yang ditulisnya pada 14 Februari 1961, sebulan setelah Patrice Emery Lumumba, pemimpin gerilya rakyat Kongo, mati dibunuh agen rahasia Amerika, CIA. Butir-butir airmata membasahi koran pagi/ Orang hitam berhati putih itu/ dibunuh siputih berhati hitam!

Aidit sendiri pernah sekali menulis pada 1964 bahwa sastra itu harus bertanggung jawab, berkepribadian nasional, dan mengabdi kepada buruh dan rakyat. Kredo ini menjadi semacam tren yang dianut para penulis "berhaluan kiri". Amarzan, sebagai redaktur HR Minggu, secara pribadi menganggap puisi tak selalu harus begitu. Ia sendiri, sebagai penyair, bisa saja menulis puisi tentang cinta, kebimbangan, bulan, dan laut.

Tak hanya Amarzan yang menganggap puisi-puisi Aidit jelek. Oey Hay Djoen, bekas anggota parlemen dan Dewan Pakar Ekonomi PKI, juga berpendapat demikian. Bekas pejabat PKI itu mengenang, ia sering dikirimi sajak oleh Aidit untuk dimintai pendapat. Tapi laki-laki yang masih gesit di usia 78 tahun itu mengaku tak pernah menggubrisnya. "Buat apa? Jelek," katanya. Hay Djoen sendiri menulis prosa memikat dengan nama samaran Ira Iramanto atau Samandjaja.

Sobron Aidit-adik D.N. Aidit-sekali waktu pernah bercerita bahwa abangnya sesungguhnya mengagumi sajak-sajak Chairil Anwar. Chairil dan Sobron pada 1949 pernah satu kos di Jalan Gondangdia Lama Nomor 2, Jakarta Pusat. Mengetahui adiknya berkawan dengan penyair terkemuka Indonesia itu, Aidit membual: "Chairil itu, kalau masih hidup, pasti berpihak pada PKI, meski tak mau jadi PKI."

Sobron sendiri saat itu kerap mengirim cerpen ke beberapa koran dan majalah sastra. Aidit kerap mengkritik cara adiknya itu menulis. "Abangku ini ternyata banyak tahu soal-soal teori sastra mutakhir," tulis Sobron dalam Aidit (2003). Aidit kemudian kerap meminjamkan buku-buku penulis Rusia seperti Tolstoi, Dostoyevsky, dan Chekov kepada Sobron.

Barangkali menulis puisi, bagi Aidit, hanya semacam gaya seorang pemimpin partai. Sebab, banyak pemimpin partai komunis di Asia yang pandai menulis sajak. Mao Zedong menulis sajak. Ho Chi Minh malah punya kumpulan sajak yang diterjemahkan ke berbagai bahasa, Prison Diary. Para pemimpin PKI lainnya-Njoto, Sudisman, Alimin, dan M.H. Lukman-juga menulis sajak.

Ketika tersebar kabar Aidit meninggal, 23 November 1965, Mao Zedong menulis sajak belasungkawa yang dimuat di sebuah koran Tiongkok, yang terjemahan Indonesianya kira-kira:

Di jendela dingin berdiri reranting jarang beraneka bunga di depan semarak riang apa hendak dikata kegembiraan tiada bertahan lama di musim semi malah jatuh berguguran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.