Senin, 09 Maret 2009

Peran Besar Bung Kecil

Sutan Sjahrir adalah satu dari tujuh “Bapak Revolusi Indonesia”. Dia mendesak Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan walau dia sendiri absen dari peristiwa besar itu. Dia memilih jalan elegan untuk menghalau penjajah. Yakni melalui diplomasi: cara yang ditentang “Bapak Revolusi” lain. Ideologinya, antifasis dan antimiliter, dikritik hanya untuk kaum terdidik. Maka dia dituduh elitis. Sejatinya, Sjahrir juga turun ke gubuk-gubuk, berkeliling Tanah Air menghimpun kader Partai Sosialis Indonesia. Sejarah telah menyingkirkan peran besar Bung Kecil- begitu Sjahrir biasa disebut. Meninggal dalam pengasingan, Sjahrir adalah revolusioner yang gugur dalam kesepian.

FILM dokumenter itu menggetarkan. Pada 14 Agustus 1947, Sjahrir berdiri di depan Sidang Dewan Keamanan, Lake Success, Amerika Serikat. Ia berbicara tentang sebuah bangsa bernama Indonesia. Sebuah bangsa muda yang memiliki sejarah peradaban yang panjang. Cara bicara Bung Sjahrir tak menggelegak seperti Bung Karno, tapi runtut dan jernih. "Selama 60 tahun film ini hilang," kata sejarawan Rushdy Hoesein.

Pembaca, film langka yang sempat hilang itu diputar di kantor redaksi Tempo, di Proklamasi Nomor 72, dua bulan lalu. Walau berdurasi beberapa menit, film itu cukup menggambarkan bagaimana Sjahrir mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Di Indonesia saat itu Belanda mengobarkan perang, ingin merebut kembali Indonesia.

Sjahrir berangkat ke Amerika, berpidato di mimbar Dewan Keamanan. Yang dilakukan Sjahrir mirip dengan saat pertama kali Yasser Arafat berpidato di Perserikatan Bangsa-Bangsa mewakili masyarakat Palestina yang berkeinginan bebas dari pendudukan Israel. Kepada dunia internasional, Sjahrir memaklumkan bahwa Indonesia adalah bangsa yang berdaulat.